Seperti Pengakuan
Di negeri kami semua berdebu selalu
seperti kenangan
atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore
yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan
mungkin saja seseorang tiba-tiba
menyalakan kipas angin
dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap
di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan
tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara
hingga kita terbatuk
seperti nasib buruk.

Di negeri kami semua seperti kantor pemerintah
penuh kertas dan urusan-urusan yang tertunda.
Pada suatu hari, setelah bosan bergunjing
atau main catur, seorang kerani mungkin saja
salah menuliskan alamat
dan memposkan surat, ke segala jurusan.
Salah satu mungkin memasuki rumahmu
hingga namamu dengan paksa terhapus
dari daftar keluarga
tempat kau sebelumnya hidup
dan tertawa-tawa.

Dan berpuluh tahun kemudian
anak cucumu pun terpesona
memandang fotomu dalam sebuah arsip lama
yang terlupa dibereskan.

Di negeri kami semua berdebu selalu,
menggelitik hidung dan tenggorokan.
Kami harus belajar menghela nafas baik-baik
perlahan dan hati-hati. Sekali saja kami bersin
segala sesuatunya bakal tak tertanggungkan. Semua
di negeri kami berdebu selalu.

Karya Agus R.Sarjono

Puisi

Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah

dengan sapaan palsu.
 Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu.
 Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu.
 Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru.
Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu.
Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu.
Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu.
Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.



Karya Agus R. Sarjono

Popular Posts